Sabtu, 15 Desember 2012

PENGARUH PENYULUHAN PROGRAM KB OLEH POSYANDU TERHADAP PILIHAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI KELUARGA


PENGARUH PENYULUHAN PROGRAM KB OLEH POSYANDU TERHADAP PILIHAN PENGGUNAAN ALAT KONTRASEPSI KELUARGA
Abstrak
Latar Belakang :
Intra Uterine Device (IUD) merupakan metode kontrasepsi yang memiliki efektifitas tinggi, reversibel dan berjangka panjang. Walaupun dengan berbagai keuntungannya, akseptor pengguna konrasepsi IUD masih rendah di berbagai wilayah. Pemakaian KB IUD di Kota Semarang juga mengalami penurunan, dimana angka penurunan terbanyak ditemukan di Kecamatan Pedurungan.
Tujuan penelitian :
 menganalisis pengaruh faktor kebijakan dan faktor pengetahuan tentang pelayanan KB terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD pada ibu PUS akseptor KB di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang.
Metodologi Penelitian :
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode survei dan pendekatan cross sectional. Dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner pada 100 responden yang berada di 12 Kelurahan wilayah Kecamatan Pedurungan. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat.
Hasil penelitian :
Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. (pvalue = 0,287). Tidak ada hubungan antara aksesibilitas dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. (pvalue = 0,662). Tidak ada hubungan antara kualitas layanan KB dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang (pvalue = 0,521). Tidak ada hubungan antara kemitraan KB dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. (pvalue = 0,093). Tidak ada hubungan antara KIE KB dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. (pvalue = 0,099). Tidak ada hubungan antara pembinaan dan pemantapan peserta KB aktif dengan pemilihan alat kontasepsi pada ibu akseptor KB Di Kecamatan Pedurungan Kota Semarang. (pvalue = 0,285).
Saran :
yang direkomendasikan adalah mempertahankan aksestabilitas, KIE, kemitraan, pembinaan pemantapan peserta KB dan mempertahankan kualitas pelayanan KB dengan meningkatkan ketrampilan petugas sehingga keikutsertaan akseptor IUD meningkat.







A.  Latar Belakang
Program Keluarga Berencana (KB) merupakan upaya pemerintah untuk menekan laju pertumbuhan penduduk dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak. Program KB secara nasional maupun internasional diakui sebagai salah satu program yang mampu menurunkan angka fertilitas. Keberhasilan program KB dapat dilihat dari adanya peningkatan peserta KB aktif dan penurunan TFR (Total Fertility Rate). Penurunan TFR dilihat dari data SDKI 2007, disebutkan bahwa sejak tahun 1970-2003 TFR sebesar 2,1, tetapi dengan adanya daerah strategis yang dipadati oleh penduduk maka TFR naik menjadi 2,3 pada tahun 2007. Namun demikian, tingkat fertilitas tersebut masih jauh dari kondisi penduduk tumbuh seimbang, yakni angka TFR mencapai 2,1 per wanita.
Indikasi tingginya TFR yakni 2,3 di Provinsi Jawa Tengah memungkinkan PUS (Pasangan Usia Subur) untuk memakai alat kontrasepsi yang efektif dan jangka panjang. PUS yang telah mempunyai anak yang cukup dan tidak menginginkan kehamilan lagi maka pilihan metode kontrasepsi jangka panjang (MKJP) harus menjadi prioritas dalam memilih metode KB.
Agar laju penurunan TFR Iebih mendekati kondisi penduduk tumbuh seimbang, diperlukan berbagai strategi dalam pelaksanaan program KB, salah satunya adalah mempromosikan MKJP. Hal ini juga merupakan salah satu sasaran Program Keluarga Berencana seperti yang tercantum dalam RPJMN 2004-2009 yakni meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang efektif serta efesien dan jangka panjang (MKJP), seperti Alat Kontrasepsi dalam Rahim (AKDR)/IUD (Intra Uterine Device).
Pertimbangan PUS dalam menentukan pilihan jenis kontrasepsi tidak hanya
karena terbatasnya metode yang tersedia, tetapi juga kurangnya pengetahuan mereka tentang kesesuaian alat kontrasepsi dengan tujuan penggunaannya (kebutuhan), persyaratan dan keamanan metode kontrasepsi tersebut, tempat pelayanan dan kontraindikasi dan alat kontrasepsi yang bersangkutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman keluarga tentang kesehatan reproduksi termasuk pemilihan alat kontrasepsi dipengaruhi oleh pendidikan, pendapatan, pengetahuan tentang kesehatan reproduksi, kekosmopolitan, akses informasi akses, dan ketersediaan pelayanan kesehatan,serta tingkat pemahaman kesehatan reproduksi

B.  Rumusan Masalah
Keberhasilan program KB dapat dilihat dari adanya peningkatan peserta KB aktif dan penurunan TFR. Kebijakan program pemerintah pusat tentang upaya meningkatkan pemakaian kontrasepsi yaitu dengan peningkatan akses dan kualitas pelayanan KB, peningkatkan kemitraan, KIE dan pemantapan peserta KB aktif. Hasil kebijakan program KB di kecamatan Pedurungan, kota Semarang yang ditujukan untuk meningkatkan cakupan pemakai kontrasepsi IUD ini masih belum maksimal meskipun sudah dilakukan beberapa hal yang mendukung program KB ini.

C.  Tujuan
Ø  Menganalisis pengaruh faktor kebijakan dan faktor pengetahuan tentang pelayanan KB terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD
Ø  Mendeskripsikan pengetahuan ibu PUS akseptor KB tentang alat kontrasepsi
IUD : pengertian IUD, jenis IUD, keuntungan dan kerugian IUD, cara kerja
IUD, persyaratan pemakaian IUD, waktu pemasangan IUD, prinsip pemasangan, prosedur pencabutan, tempat pelayanan pemasangan IUD, kunjungan ulang IUD.


D.  Manfaat Penelitian
Ø  Bagi Badan Pemberdayaan Perempuan Masyarakat dan Keluarga Berencana, penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan dan dasar memberi rekomendasi kebijakan program KB.
Ø  Bagi penulis, penelitian ini dapat memperluas pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman menganalisis pengaruh faktor akses dan kualitas pelayanan KB, kemitraan, KIE, dan pelayanan program KB nasional, pembinaan dan pemantapan peserta KB aktif terhadap pemilihan alat kontrasepsi IUD di masyarakat
Ø  Bagi akademik dapat memberi masukan bagi peneliti selanjutnya dan sebagaibahan pengembangan ilmu tentang faktor akses dan kualitas pelayanan KB, kemitraan, KIE, dan pelayanan program KB nasional, pembinaan dan pemantapan peserta KB Aktif

E.  Tinjauan Pustaka
Ø  KB adalah Keluarga Berencana adalah salah satu usaha mencapai kesejahteraan dengan jalan memberikan nasehat perkawinan dan penjarangan kehamilan dengan pemberian alat kontrasepsi.
Ø  Alat kontasepsi  adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan upaya untuk bersifat sementara dapat juga bersifat permanen  penggunaan alat kontrasepsi merupakan salah satu variable  yang mempengaruhi fertilitas (prawirohardjo 2006)
 
F.  Metodelogi Penelitian
Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan metode survei dan pendekatan cross sectional. Dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner pada 100 responden yang berada di 12 Kelurahan wilayah Kecamatan Pedurungan. Analisis data dilakukan dengan analisis univariat dan bivariat.

G.  Variabel
Ø  Variabel bebas : pengaruh penyuluhan program kB
Ø  Variabel terikat :   pemilihan penggunaan alat kontrasepsi


H. Quisioner
            1. Apakah ibu menggunakan KB?
Jawab :
 A. Ya                B. Tidak
2. Apakah petugas puskesmas pernah melakukan penyuluhan KB?
Jawab :
A. Ya                B. Tidak





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar